Search This Blog

Friday, September 02, 2005

Media Besar Terkadang Takut

Uni Zulfiani Lubis:
Wawancara | 01/09/2002

Sebabnya begini: terkadang memang ada sindrom pada media yang sudah besar. Yaitu takut akan terganggu.

Setelah Soeharto jatuh, kalangan media dituntut untuk mempertahankan kebebasan persnya yang diperjuangkannya selama ini. Tentu pekerjaan ini sangat sulit. Karena ancaman dan larangan tidak lagi datang dari penguasa yang sewaktu-waktu bisa menebas leher pers untuk menyuarakan kebebasan berpendapat dan berekspresi, tapi —ironisnya— sekelompok orang pun mampu memberangus hak dasar tersebut dengan memakai baju agama. Akankah media kembali menjadi “korban” selamanya? Masihkah para penggiat media memakai jalur-jalur di “bawah meja” untuk menyelesaikan kasus yang berulang kali terjadi?

Untuk membicarakan ihwal persoalan-persoalan ini, Ulil Abshar-Abdalla dari Kajian Utan Kayu (KIUK) mewawancarai Uni Zulfiani Lubis, mantan Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat yang sekarang menjabat Humas TV7. Uni juga aktif di Editors Club, sebuah organisasi pers yang merupakan kumpulan para pemimpin redaksi dan praktisi media. Wawancara berlangsung pada hari Kamis, 29 Agustus 2002 di Kantor berita Radio 68H. Berikut petikannya:

Sekarang banyak bermunculan kelompok berlabel agama yang radikal dan pada taraf tertentu mengancam kebebasan media. Kalau dulu ancaman media dari rezim penguasa, sekarang justru dari kelompok minoritas vokal ini. Berdasar pengalaman Anda, apakah hal itu ancaman serius media?
Kalau bentuk ancamannya sudah fisik, tentu saja serius. Ancaman semacam ini bukan hanya terjadi sekarang, tapi sejak reformasi pada tahun 1998 sudah mulai terasa. Ketika saya di Majalah Panji Masyarakat (Panjimas), kami didatangi Pam Swakarsa berkali-kali. Sebagaimana kita tahu, Pam Swakarsa ketika itu mendukung B.J Habibie. Sementara Panjimas mengkritisi B.J Habibie. Bagi mereka, karena Panjimas adalah media Islam, seharusnya tidak mengkritisi Habibie. Tapi kala itu Panjimas malah menulis dengan sangat kritis. Akibatnya, kami didatangi kelompok masyarakat dan pemuda Islam yang mengancam Panjimas, bahkan kalau perlu akan menutup jika Panjimas terus menerus menulis seperti itu. Itu satu contoh.

Contoh kedua, terjadi ketika kita memuat cover story tentang Beddu Amang korupsi. Kasus ini ternyata berjalan sampai sekarang. Hari itu Panjimas keluar, besoknya Beddu Amang memang dipecat. Akibatnya, beberapa tokoh HMI —Beddu Amang adalah ketua umum KAHMI kala itu— lantas menyalahkan Panjimas. Katanya, “media Islam, kok malah menjelek-jelekkan orang Islam?” Mereka juga mengancam. Jadi peristiwa-peristiwa semacam itu sudah pernah kami alami. Panjimas sebagai media Islam, juga tidak luput dari tekanan kelompok-kelompok tadi.

Mungkin itu justru karena label Islam-nya itu. Saya juga mendengar, Republika yang lekat citra Islamnya sering juga mendapat protes dan teror, sekiranya memuat berita yang dianggap sekelompok orang sebagai “anti-Islam.” Apa alasan orang-orang tersebut mengklain demikian?
Kadangkala, argumentasi yang mereka kemukakan adalah ketidaksesuaian liputan kita dengan standar dan lain-lain. Akhirnya, teman-teman kita yang agak emosional mengatakan: “Oke, kalau kalian tahu liputan yang sesuai standar lebih baik, kenapa tidak bikin koran dan majalah sendiri? Buktikan saja, kalau berita-berita yang sesuai dengan selera kalian itu, memang bisa diterima publik!” Kalau mereka mengklaim punya banyak pendukung, mengapa tidak? Itu debat yang selalu terjadi antara kami dengan kelompok-kelompok seperti itu.

Selain aktif di Editors club, sekarang Anda kan terlibat di dunia TV. Kalau TV7 sendiri bagaimana pengalamannya?
Di TV 7, tayangan kami yang menjadi kontroversi dan keberatan sekelompok orang adalah kartun Subasa yang dituntut perubahan jam tayang. Subasa itu adalah tayangan kartun yang ditayangkan stripping dari hari Senin sampai Jumat, setiap jam 6 sore. Kami menerima banyak sekali email, faks, surat, bahkan telepon. Selama seminggu, ada sekitar 20 lebih yang menelpon tanpa menyebutkan nama dan alamat yang jelas. Memang ada juga email dan surat yang jelas. Mereka mengancam akan mendatangai kantor TV 7 beramai-ramai kalau kami tidak memindahkan jam tayang.

Alasan mereka, anak mereka tidak shalat maghrib dan malas belajar dengan tayangan tersebut. Beberapa dari mereka itu memang mengatasnamakan kelompok-kelompok yang bernuansa Islam. Misalnya, kelompok persatuan orang tua murid dan guru SD yang namanya bernuansa Islam. Mereka mengklaim berasal dari kelompok yang secara positif taat beragama dan merasa anak-anak mereka terganggu.

Mengapa terjadi ketidakpuasan kelompok-kelompok itu?

Prinsipnya begini: media, baik cetak maupun elektronik, membuat suatu produk untuk kepentingan masyarakat banyak dan sangat luas. Kita tidak mungkin membuat produk untuk kelompok-kelompok tertentu saja. Artinya, memang ada kelompok yang puas —dan ini tentu tidak masalah— tapi juga ada kelompok yang keberatan. Tapi masalahnya, kita ‘kan tidak serta merta bisa mengikuti kemauan kelompok yang merasa keberatan.

Kesulitan itu mungkin lebih besar ketika Anda mengelola sebuah media Islam. Karena Islam agama mayoritas dan liputan tentang Islam perlu mendapat porsi lebih banyak. Tapi Anda menggunakan cara pandang tertentu yang tidak disukai sementara kelompok Islam itu. Nah, bagaimana menyikapi ini?
Sedari dulu saya termasuk orang yang tidak mau tunduk pada protes-protes semacam itu. Sebab, saya tahu persis, mayoritas umat Islam itu moderat, toleran, tidak radikal dan tidak berpandangan sempit. Saya juga sadar, memang ada beberapa kelompok yang memrotes. Mereka itu dari berbagai aliran dan bermacam “baju.” Berdasar pengalaman di Panjimas dan hasil pergaulan dengan mereka ini, saya berkesimpulan: rasa-rasanya, orang yang memrotes dari itu-itu juga. Setahu saya yang memerotes iklan “Islam Warna Warni” sajian Komunitas Islam Utan Kayu, figur-figur di dalamnya itu-itu juga. Hanya saja, mereka menggunakan bendera ini dan itu. Jadi ada vocal minority.

Mengapa Anda tidak begitu saja tunduk pada kelompok yang berlabel agama itu?
Begini. Faktanya, umat Islam memang mayoritas, tapi semua agama dan kepercayaan berhak hidup dengan sama. Saya akan kasih illustrasi yang mungkin tidak terlalu tepat. Kadangkala, ada progran televisi yang sangat menarik dan seru. Tapi, ketika maghrib, semua TV, kecuali Metro TV, ‘kan menayangkan azan maghrib. Azan maghrib itu minimal dua menit, dan versi panjangnya ada yang empat menit. Akan tetapi, toh tidak pernah ada kelompok non-Islam yang memrotes. Padahal, mungkin gangguannya sama juga.

Dari sisi subjektivitas ‘kan gangguannya sama. Bedanya, kasus kartun Subasa tadi dianggap menyebabkan anak tidak shalat, tidak belajar dan lain-lain. Susahnya, kalau kita pindah ke jam lain, lebih sore misalnya, ada juga anak lain yang les atau mengaji. Ini juga bisa memunculkan protes. Jadi memang kita tidak mungkin bisa memuaskan semua. Dan kita percaya, mayoritas umat Islam moderat.

Menurut Anda, bagaimana sebaiknya konsumen media menanggapi hal-hal seperti ini?

Dalam kasus TV 7, sebagaimana kami sebutkan tadi, kami menerima banyak email. Menurut kami, itu salah satu bentuk ekspresi. Bentuk ekspresi itu, banyak juga kalimatnya yang sopan, dan berbentuk keprihatinan orang tua dan imbauan. Kami menerima surat-surat seperti itu dengan penuh empati. Itu menjadi bahan diskusi yang sangat serius bagi kami. Tapi di TV7, kami berusaha melanjutkan tayangan sampai selesai. Kalau nanti selesai, kami akan meninjau ulang. Kami tidak mengambil keputusan saat itu juga (saat muncul reaksi). Menurut saya, tidak baik kalau sebuah media, cepat tunduk pada kemauan sekelompok orang yang menggunakan ancaman kekerasan atau fisik.

Bagaimana kalau mereka menggunakan jalur wajar seperti hukum dengan mengadu ke polisi, misalnya dengan alasan menghina agama?

Masalah itu bisa diperdebatkan panjang sekali. Itu hak mereka. Tapi, bagaimana nantinya aparat bisa menyikapi hal-hal seperti ini? Aparat tentu punya keterbatasan karena hal ini sifatnya mendalam, teologis dan filosofis. Jadi polisi mungkin juga bingung bagaimana menyikapinya. Jangan-jangan, polisinya malah menggantung atau membiarkan. Orang-orang seperti ini biasanya menekan polisi dengan sekelompok massa dan lain-lain.

Ada sebuah kasus: seorang teman menulis tentang jihad di media massa dengan perspektif lain. Dia kemudian diadukan ke polisi dengan alasan “penghinaan Islam”. Yang kita khawatirkan itu bukan betul-betul bentuk penghinaan terhadap Islam, tapi lebih pada keinginan memberangus suatu pendapat. Bagaimana tanggapan Anda?


Dalam konteks pers misalnya, kita anjurkan mereka menggunakan jalur hukum, agar ada saluran jurisprudensi untuk hal-hal sejenis. Itu lebih baik ketimbang mengunakan kekerasan. Jadi saya melihat, sah-sah saja kalau mereka menggunakan jalur hukum. Dan itu, menjadi pengalaman untuk dunia pers tentunya.

Apakah cara-cara seperti ini menimbulkan was-was bagi kalangan pers?

Tentu ada, tapi tergantung pada pihak pengelola juga. Tapi masalahnya, kami memplot suatu acara tanpa niatan jelek di belakangnya. Contohnya, penempatan jam tayang kartun pada pukul enam, tidak berarti sejak awal ditujukan untuk menggoda anak-anak untuk tidak shalat. Tolonglah mencoba untuk tidak berprasangka buruk dulu. Kasus iklan “Islam warna warni” juga. Sebaiknya, mereka bertanya atau mengajak berdiskusi dulu. Saya juga termasuk yang heran: mengapa TV yang menayangkan iklan itu, tunduk pada kemauan kelompok tertentu itu.

Menurut Anda, apakah protes-protes yang terlalu mudah dituruti itu akan mengancam kebebasan pers?

Jelas! Itu sangat jelas! Itu akan membuat sekelompok orang akan memaksakan kehendaknya. Sebab, boleh jadi itu hanya mewakili kepentingan sekelompok orang saja. Karena, seperti yang saya katakan tadi, apakah kita harus tunduk pada yang minoritas? Tuntutan yang muncul itu, mungkin harus digodok dan dipelajari dulu, sebelum kita memperturutkannya.

Saya menduga, mungkin iklan yang dibuat Garin Nugroho dan KIUK itu bukan sesuatu yang masih dianggap penting oleh institusi yang menayangkannya. Lantas, ketimbang pusing-pusing, ya sudah didrop saja. Mungkin ada juga pertimbangan tidak mau berperkara. Tapi mungkin kasusnya akan berbeda kalau kita sepakat dengan semangat yang dicoba untuk dituangkan acara atau iklan seperti itu. Tapi memang, acara atau iklan dalam bentuk toleransi dan lain-lain bagi sekelompok orang dianggap bermasalah. Saya selalu menekankan, kalau mereka itu (yang menganggap bermasalah itu) kecil dan orangnya itu ke itu saja.

Kata orang: kecil memang, tapi pedas kayak cabe rawit.

Bagi saya, lebih baik mengajak bertemu dalam bentuk yang positif. Kita berdebat dan mendiskusikan mana salahnya. Jangan-jangan, mereka tidak ngerti dan melihat sepintas saja, lalu menyimpulkan. Jangan-jangan, ada maksud lain juga. Dulu, kita tahu, ada media semacam RCTI atau SCTV yang ketika didatangi sekelompok orang yang protes ini dan itu. Ujung-ujungnya, mereka ternyata mengharap sesuatu yang materil dan lalu mereda. Apakah kita ingin memelihara kelompok-kelompok seperti itu? Untuk mengamankan institusi pers, saya kira, tradisi itu bukan sesuatu yang perlu dipertahankan.

Bisa-bisa itu akan membudayakan kultur pemerasan. Bukan begitu?

Ya, semacam itu. Yang paling menyedihkan buat saya adalah mereka itu selalu mengatasnamakan agama.

Sebetulnya, umat Islam Indonesia itu moderat dan tidak menakutkan. Tapi setelah reformasi, banyak kelompok yang bermunculan, sekalipun mereka yang keras. Bagaimana Anda melihat suasana sekarang ini?

Ya. Memang setelah reformasi, aparat pun mengalami degradasi moral. Mereka tidak lagi berani melakukan tindakan tegas. Dulu bila muncul lima atau sepuluh orang, demonstrasi tidak mungkin terjadi. Sekarang mereka berani, apalagi yang menggunakan simbol-simbol agama. Bagi mereka, polisi akan ngeper untuk melarang. Jadi memang di pihak aparat terjadi degradasi keberanian untuk menegakkan hukum.

Tapi, saya pikir tv-tv kita sudah berbuat baik untuk umat Islam. Buktinya, ada azan maghrib-subuh dan lain-lain. Apalagi pada bulan Ramadlan. Bagaimana menurut Anda?

Ya. Agama lain sekali seminggu digilir. Agama Islam paling banyak porsinya. Hampir ketika kuliah shubuh digelar acara keagamaan. Belum lagi kalau bulan puasa. Pada bulan puasa, semua stasiun tv berlomba-lomba bikin acara keislaman.

Tapi ada juga yang berseloroh: “Itu dagang saja!”

Ya, he..he.. Tapi, intinya dagang sambil ibadah juga. Sebab idealisme itu tidak akan langgeng kalau tidak juga laku. Betul ‘kan?

Oh, ya, sedikit komentar tentang iklan “Islam Warna-warni”. Saya tidak tahu konsep KIUK dan Garin Nugroho tentang iklan tersebut. Tapi, saya kira, kawan-kawan hanya tidak ingin kalau sekelompok umat Islam yang radikal, diklaim itulah Islam. Padahal Islam itu warna warni. Mungkin pesan itu bentuknya bisa macam-macam. Konteksnya mungkin karena kita sedang dalam sorotan.

Negara-negara Barat, khususnya Amerika, melihat seolah-olah Islam itu adalah seratus orang yang berdemo di kedutaan Amerika. Itu ‘kan efeknya secara nasional sangat merugikan. Saya justru menangkap pesan lain yang ingin Anda dan Garin sampaikan: umat Islam jangan disamaratakan. Tidak semua umat Islam begitu, dan ada banyak ragam umat Islam. Itu juga yang saya tangkap.

Sebetulnya, demo di depan kedutaan AS bukan masalah. Yang bermasalah adalah ancaman sweeping. Artinya, kelompok-kelompok yang cenderung menggunakan kekerasan itu, cenderung memberikan citra buruk untuk Islam.

Ya. Kalau kita berpikir dengan kepala dingin, mestinya banyak pesan yang bisa ditangkap dengan iklan seperti itu.

Ah, terkadang justru media yang takut dengan kewarna-warnian itu!


Sebabnya begini: terkadang memang ada sindrom pada media yang sudah besar. Yaitu takut akan terganggu. []



*) dari situs Jaringan Islam Liberal

No comments: